LALARAN, BUKAN SEKEDAR TRADISI

LALARAN, BUKAN SEKEDAR TRADISI
Februari 4, 2021 No Comments Berita admin

Oleh: Moh. Kamil Anwar

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di banyak pesantren mengenal budaya mengaji dan menghafal yang sangat kuat, terutama jika acuannya adalah pesantren yang berlatar belakang pendidikan salaf-klasik. Tak ayal, kebiasaan tersebut menjadikannya ciri khas tersendiri yang membedakan dari lembaga-lembaga atau institusi lain yang juga bergerak di bidang pendidikan keagamaan.

Output santri yang dihasilkan pun tidak main-main, puluhan kitab dan nazham sudah biasa menjadi buah tangan mereka ketika kelak dinyatakan lulus dari pesantren dan pulang kembali ke daerah asal. Sekalipun tidak semua mata pelajaran bisa dibawa pulang, setidaknya kitab dan nazham yang sudah mereka hafal bisa menjadi bekal saat dibutuhkan oleh masyarakat.

Sebab itu banyak pesantren yang berusaha menggembleng santrinya untuk menghafal dan terus mengulang-ulang hafalannya. Tujuannya tentu pasti, agar sewaktu-waktu ia menemui kesulitan atau pertanyaan dari orang lain ia tidak banyak beralasan seperti “aduh, Saya lupa!” atau “Saya tahu jawabannya, tapi nanti Saya buka dahulu catatan Saya” untuk permasalahan-permasalahan yang masih tergolong sepele.

Salah satu usaha yang dikenal luas diterapkan di pesantren adalah kegiatan wajib dalam bentuk membaca dan mengulang materi hafalan secara individu atau berkelompok dengan berlagu, atau yang biasa disebut lalaran. Sebagai program lanjutan dari kewajiban dasar santri dalam menghafal materi pelajaran.

Lalaran, bahkan, sering dijadikan sebagai tempat “pelampiasan” bagi banyak santri, sebab di sana mereka bisa melampiaskan kekuatan hafalannya dengan berusaha mengikuti bacaan secara lancar tanpa melihat teks. Atau bisa jadi melampiaskan dalam makna bisa mencurahkan semangatnya dalam menghafal dan mencari ilmu di pesantren dengan bersenandung bersama santri-santri seperjuangannya. Hal yang sangat menyenangkan, terutama bagi mereka yang sudah bisa merasakan nikmatnya mencari ilmu.

Karena itulah, lalaran bukan sekedar tradisi yang harus dijaga oleh santri, tapi juga merupakan kebutuhan yang tanpanya kekuatan hafalan mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk berkembang. Syekh Zarnuji dalam Ta’limul Muta’allim juga sangat menganjurkan untuk terus mengulang-ulang pelajaran dan hafalan:

وَإِذَا مَا حَفظْتَ شَيْأً أَعَدَّهُ # ثُمَّ أَكَدَّهُ غَايَةُ التَّأْكِيْدِ

Artinya: yang telah kau hafal ulangi lagi berkali-kali lalu tambahkan dengan temali kuat sekali

Selanjutnya, hafalan bukanlah tujuan terakhir dalam proses belajar santri di pesantren. Masih ada keharusan memahami ilmu dan mengamalkannya. Hanya saja, semua dimulai dari, salah satunya, ketekunan dalam menghafal. Ini serius.

 

About The Author

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
Silahkan hubungi kami
Assalamualaikum, Saya ingin bertanya...